Sarana Mempelajari Islam

Kisah Para Pembuat Parit

Ashhabul Ukhdud

I. Uraian Kisah :

“Binasalah dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Terpuji”. (QS. Al Buruj : 4-8) 

Dahulu kala di Najran, Yaman, ada seorang remaja bernama Jahdun. Seperti umumnya raja-raja kala itu, Jahdun juga mengaku dirinya adalah Tuhan. Jahdun mempunyai tukang sihir yang sekaligus salah satu penasihatnya. Selain tukang sihir tersebut, ada seorang ustadz yang juga bertugas sebagai penasihat raja.

Suatu ketika, tukang sihir menghadap sang raja, “Paduka yang mulia aku ini sudah sekian tua. Agaknya ajalku hampir tiba. Maka carilah seorang pemuda yang cerdas agar aku bisa mewariskan ilmuku,” ucapnya. Jahdun pun mengabulkan permintaan tukang sihir tersebut.

Singkat cerita, dipilihlah seorang pemuda cerdas bernama Waddhah. Atas perintah raja, pemuda tersebut berguru kepada tukang sihir. Namun dalam perjalanannya, pemuda itu tertarik pula pada sang ustadz yang tinggal tak jauh dari lingkungan istana tersebut. Waddhah sering mampir ke rumah ustadz itu untuk mendengarkan ajaran dan petuahnya, sebelumnya ia pergi ke tukang sihir. Karena terpikat dengan ajaran sang ustadz. Waddhah selalu terlambat tiba di rumah tukang sihir. Akibatnya tukang sihir itu menghukumnya. 

“Mengapa kamu selalu terlambat?” hardik tukang sihir itu sambil memukulinya. Namun Waddhah tak menjawab. Usai belajar di rumah tukang sihir, Waddhah singgah lagi ke rumah ustadz. Akibatnya ia pun sering terlambat di rumah. Kali ini keluarganya yang marah dan memukulinya. Kondisi itu terjadi berulang-ulang.

Akhirnya, Waddhah mengadukan kejadian tersebut kepada sang ustadz, mendengar keluhan muridnya, ustadz itu memberi nasihat bijak.

 “Jika tukang sihir itu hendak memukulmu, katakan bahwa keluargamu telah menahanmu sehingga kau terlambat. Dan jika keluargamu hendak memukulmu karena terlambat, katakanlah bahwa tukang sihir itu telah menahanmu”.

Demikianlah, semua berjalan lancar tanpa ada yang tahu kalau Waddhah telah terpaut hatinya pada ajaran sang ustadz. 

Suatu hari seekor binatang melata berukuran sangat besar tiba-tiba menghalangi jalan umum. Akibatnya, tak seorangpun berani mendekati jalan itu. Ketika melihat binatang itu, Waddhah bergumam dalam hati, “Hari ini akan aku ketahui, apakah ajaran sang ustadz lebih dicintai Allah ataukah ajaran si tukang sihir”. 

Waddhah mendekati binatang tersebut. lalu diambilnya sebuah batu sambil berdo’a: “Ya Allah, jika ajaran sang ustadz lebih Engkau cintai dan Engkau ridhoi daripada ajaran si tukang sihir, maka bunuhlah ini supaya orang-orang bisa lewat”. Waddhah segera melemparkan batu ke arah binatang besar itu. Binatang itu pun mati seketika. Kejadian tersebut diceritakan Waddhah kepada sang ustadz. Mendengar cerita itu sang ustadz sangat kagum. 

“Nak, engkau lebih mulia dari aku”, ujar sang ustadz masih dengan nada tertegun. “Suatu saat engkau pasti mendapat ujian dan malapetaka. Maka ketika ujian itu menimpamu, jangan sekali-kali engkau menceritakan keadaanku”.

Sejak itu, banyak karunia yang diberikan Allah kepada Waddhah. Atas izin Allah, ia mampu menyembuhkan penyakit ringan maupun berat yang menimpa masyarakat. 

Kebetulan, ada teman dekat raja Jahdun yang mengalami kebutaan sejak lahir. Diantar para pengawal, si buta tersebut datang menemui Waddhah dengan membawa berbagai macam hadiah. 

“Wahai anak muda, tolong sembuhkan aku”, Waddhah menjawab, “Aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Hanya Allah-lah yang mampu menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada-Nya dan berdo’a, Insya Allah akan sembuh”.
 Karena bertekad sembuh, orang itu pun menurut. Maka ia beriman kepada Allah dan memanjatkan do’a. sungguh ajaib, kedua mata laki-laki itu sembuh seketika. Semakin kuatlah imannya kepada Allah. 

Suatu ketika, laki-laki itu datang ke istana. Dengan perasaan heran, raja Jahdun bertanya, “Kawanku, siapa yang telah mengembalikan penglihatanmu?” Ia menjawab singkat, “Tuhanku”, Jahdun menyahut, “Maksudmu aku?”. Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu. Yakni Allah Azza wa Jalla”. Raja semakin penasaran. “Apakah engkau punya Tuhan selain aku?” Dengan mantap ia menjawab, “Benar Allah-lah Tuhanku dan Tuhanmu jua, “Akibat pengakuan keimanannya, laki-laki itu disiksa secara sadis. Hingga akhirnya Waddhah dipanggil menghadap sang raja.  

“Hai Waddhah, aku dengar sihirmu bisa menyembuhkan berbagai penyakit,” tanya Raja Jahdun dengan nada keras.
 Dengan tenang Waddhah menjawab, “Jahdun, aku tak punya ilmu sihir. Tukang sihir itu tidak mengajarkan apa-apa kepadaku. Ia selalu memukuli aku. adapun penyakit mata kawanmu itu. Bukan aku yang menyembuhkan. Tetapi Allah”. Raja bertanya, “Aku?”. “Bukan”, jawab Waddhah. “Kamu punya Tuhan selain aku?”.”Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah adalah Allah semata”. 

Jahdun marah besar. Pemuda itu pun disiksa, sampai akhirnya ia berterus terang bahwa ia belajar dari sang ustadz. Tanpa pikir panjang lagi, Raja Jahdun menyuruh prajuritnya untuk menculik sang ustadz.

“Keluarlah dari agamamu, wahai Ustadz. Atau aku siksa kamu”, bentak Jahdun setelah sang ustadz itu tiba di hadapannya. 

Namun sang ustadz dengan tegas menolak permintaan itu. Akhirnya Jahdun menyuruh algojo mengeksekusi sang ustadz. Dengan gergaji di tangannya, algojo itu memisahkan kepala sang ustadz dari badannya. 

Jahdun kemudian meminta kawannya yang buta itu untuk mengingkari adanya Allah SWT. Tapi ia menolak. Maka laki-laki itupun menyusul sang ustadz, syahid di tangan algojo. 

Tiba giliran Waddhah. Ia juga diminta keluar dari keyakinannya. Namun pemuda itu tidak langsung dibunuh, Jahdun meminta para algojo untuk membawanya ke sebuah gunung.”Jika sampai di puncak nanti, lalu ia mau keluar dari agamanya, bawalah ia kembali. Jika tidak, lemparkan ke jurang.”

Sampai di puncak, Waddhah berdo’a, “Ya Allah, kupasrahkan jiwaku kepada-MU. Peliharalah akau dengan apa yang Engkau kehendaki”. Tak berapa lama, gunung itu berguncang dahsyat. Orang-orang itu terperosok, kecuali Waddhah. Ia pun menghadap raja.

“Apa yang telah terjadi dengan mereka?” tanya Jahdun terkejut. Allah SWT yang telah meyelamatkan aku”. jawab Waddhah. Alangkah murkanya Jahdun. Ia segera menugaskan para prajuritnya agar membuang Waddhah ke laut.
 “Jika sudah berada di tengah laut, lalu pemuda ini mau keluar dari keyakinannya. Bawalah ia kembali. Jika tidak, lemparkan ia!” begitu pesan Jahdun.

Namun, dengan izin Allah, Waddhah selamat. Sedangkan para algojo itu tewas tenggelam. Pemuda itu pun kembali menemui raja Jahdun. Jahdun makin geram dibuatnya.

 “Demi Allah SWT, engkau tak akan bisa membunuhku dengan cara apapun, kecuali engkau menuruti perintahku,” kata Waddhah. “Bagaimana caranya”, tanya Jahdun. “Kumpulkan semua penduduk negeri ini di sebuah tempat yang tinggi. Lalu ikatlah aku di sebuah pohon. Ambil anak panah dan ucapkan dengan keras, “Dengan nama Allah, Tuhannya pemuda ini”. Jika kau lakukan, niscaya kau bisa menghabisi nyawaku”.

Jahdun menurut, setelah rakyat negeri itu berkumpul dan pemuda tersebut terikat erat di sebuah pohon, jahdun mengambil anak panah dan membidiknya. Anak panah melesat ke arah Waddhah, tapi ternyata tidak mampu menembus kulitnya. Jahdun marah, “Hai Waddhah, kau telah membohongi aku”.

 “Tidak, aku tidak bohong,”sanggah Waddhah. “Bukankah engkau belum menyebut nama Allah?”

 Raja congkak itu mengambil lagi anak panah. Menjelang melepaskan anak panah itu, ia menyebut nama Allah, tapi hanya di dalam hati. Anak panah melesat, tetapi lagi-lagi tidak mempan. Bukan main marahnya sang raja. 

“Bukankah telah kuperintahkan kamu untuk menyebut nama Allah dengan keras?” seru Waddhah.

 Jahdun tertegun. Namun sesaat kemudian, cepat-cepat diambilnya anak panah ke tiga. ia berteriak dengan keras, “Dengan nama Allah, Tuhannya pemuda ini!”. Anak panah itu kemudian melesat menembus jantung Waddhah, dan menakhiri hidupnya. 

Gemparlah seluruh penduduk menyaksikan adegan tersebut. mereka pun berteriak, “Kami beriman kepada Allah, Tuhan pemuda itu”. Pengawal raja berbisik, “Paduka, tidakkah paduka lihat? Mereka beriman kepada Allah dan tidak mengakui ketuhanan paduka.

 Akhirnya Jahdun memerintahkan pengawalnya untuk membuat parit (ukhdud). Di dalamnya dinyalakan api yang bergolak. “Siapa yang mau keluar dari agamanya, selamatlah ia. Jika tidak, kalian akan kulemparkan ke dalam api ini!” teriak Jahdun. 

Namun seluruh rakyat Najran itu tetap teguh dengan iman mereka. Akhirnya satu persatu mereka dilemparkan ke dalam api tersebut. di antara mereka ada seorang wanita yang sedang menggendong anaknya yang masih menyusui. Sejenak ia bimbang untuk melompat ke dalam kobaran api. Tiba-tiba anak yang digendongnya berkata pelan, “Ummi, tabah dan bersabarlah. Karena engkau berada di jalan yang benar,“ Maka, dengan membopong anaknya, perempuan itu menceburkan diri. 

Peristiwa di atas kemudian dikenal dengan kejahatan ashabul ukhdud (para pembuat parit). Kebiadaban itu mungkin saja terulang kembali di tempat dan waktu yang berbeda, dalam pola dan bentuk yang berbeda pula. Karenanya, kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an ini harus selalu diambil hikmahnya.

II. Hikmah

Kisah Ashabul Ukhdud menceritakan bagaimana perjuangan seorang pemuda untuk mendapatkan kebenaran dan mempertahankannya. Bagaimanapun seorang pemuda merupakan aset regenerasi, pemuda merupakan masa terbaik manusia. Ia memiliki tenaga yang tidak dimiliki anak-anak maupun orang tua. Semangatnya masih tinggi, idealismenya masih menyala. Kemampuan berpikirnya masih bersih dan kuat. Potensi-potensi ini hanya dimiliki kaum muda. Oleh karena itu sudah selayaknya para pemuda menyadari hal itu. Jika pemudanya rusak perilakunya, maka rusaklah masa depan. Namun jika pemudanya berada dalam jalan kebenaran maka masa depan akan cemerlang.

 Pada kisah ini, awalnya Waddhah adalah calon pengganti penyihir jahat. Namun pada perjalanan kehidupannya Waddhah bertemu dengan seorang alim agama sehingga ia menemukan cahaya kebenaran. Kisah ini memberi tahu bahwa hidayah Allah SWT itu selalu ada, tinggal manusianya mau mencarinya atau tidak. 

Pada kisah ini juga kita diperlihatkan bahwa tak ada yang mampu mengalahkan kekuasaan Allah SWT. Apalagi orang yang mengingkari-Nya. Allah SWT selalu memperlihatkan kekuasaannya bahwa mereka yang melampaui batas akan mendapat balasan. 

Orang yang mengingkari Tuhan dari masa ke masa akan tetap ada. Mungkin saja kebiadaban yang dilakukan orang-orang tersebut akan terulang. Oleh karena itu para penegak da’wah perlu selalu mengasah kesabaran dan kekonsistenan dalam berda’wah serta mengutkan hubungan dirinya dengan Allah SWT. Hanya dialah yang mampu menolong hamba-Nya.
 Ujian dalam menegakkan kebenaran mulai dari yang ringan hingga mengorbankan jiwanya. Sebagaiman Waddhah, da’wahnya menyeru ke masyarakat berhasil ketika ia mengorbankan jiwanya, bahkan kematiannya.

Kisah ini berlanjut hingga masa kini, kisah Sayyid Quthub misalnya, ia meninggal di tiang gantung karena dianggap melawan negara, namun kematian beliau itulah yang menyadarkan algojo yang menggantung beliau. Di detik-detik terakhir sebelum akan digantung, sang algojo berkata kepada Sayyid Quthub, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illallah!”, Sayyid Quthub pun menjawab, “Engkau mencari makan dari kalimat itu sedangkan aku berada di sini karena mempertahankan kalimat ini.” Sang algojopun terdiam. Kata-kata itu membekas di hatinya.

Pada akhirnya ia bergabung pada nilai-nilai kebenaran itu. Bagi para penyeru da’wah setiap peristiwa dapat menjadi lahan untuk berda’wah dan itu sudah dibuktikan oleh Waddhah, Sayyid Quthub dan pemuda-pemuda lain yang seperti mereka.
Referensi :
1. Al Qur’an Terjemahan, DEPAG RI
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Majalah Sabili Edisi. No. 4 Th. VII 11 Agustus 1999/29 Rabi’ul Tsani 1420.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: